Ketika kita tidak mempunyai nama, gelar dan jasa maka tinggalkanlah tulisan tentang hidup...merekam segala kejadian, pikiran dan pendapat.....
Majulah masuk ke dalam dunia Noni
Sebuah perjalanan hidup di pertengahan 30 tahunan...single, bahagia dan selalu mencari petualangan baru....Tinggalkan jejak anda dan ikuti jejak saya di @nonibeen
Gara-gara ngegosip sama sekretaris boss di depan ruangannya, saya dipanggil oleh beliau dan dikasih undangan nonton Premiere Kawin Kontrak 3 di Kota Kasablanka karena beliau harus menghadiri meeting kantor. Karena sudah lama sekali gak datang acara Premiere film sejak terakhir nonton Premiere Shutter (versi Thailandnya) ya sudah lah kenapa gak saya datang....
Tanggal 28 Agustus, saya bela-belain menghadapi macet di Jalan Kuningan untuk datang ke Kota Kasablanka Pkl. 19.00 karena dalam undangan tercantum acara akan dimulai pukul 20.00. Ternyata sampai di tempat acara hanya satu pemain yang sudah hadir yaitu Gary Iskak, sedangkan panitianya cuma ada beberapa. Ditambah lagi security Kasablanka XXI yang gak tau menahu acara tersebut sehingga gak bisa memberikan saya info yang lebih berarti.
Akhirnya saya main-main dulu ke Scoop, lalu kembali ke Kasablanka XXI. Baru ada tanda-tanda kehidupan panitia. Bahkan banner baru dipasang dan tiket baru disusun, padahal wartawan dan tamu undangan sudah mulai antri.
Terima kasih yah Allah Engkau telah lahirkan saya untuk Ainung Dan Ainun untuk saya
Akhirnya setelah "ribut" pengen nonton Habibie & Ainun dari 2 minggu yang lalu, akhirnya saya berkesempatan juga menonton film ini. Kisah cinta yang luar biasa dari pasangan Bapak Habibie dan Ibu Ainun. Untung ada Upit yang ngajakin nonton di Gandari City, bareng Ime akhirnya nonton deh film ini.
Alhamdulillah-nya film ini berusaha total untuk menggambarkan kisah cinta Mantan Presiden ini, mulai dari PDKT di Bandung, miskin-miskinan di Jerman sampai berhasil dan akhirnya kembali ke Indonesia. Bahkan figuran-figuran bulenya juga total berakting dan memakai baju dari era seeting kisah mereka.
Lucunya, yang malah kecolongan adegan di IPTN ketika membangun pesawat N250 Gatotkoco. Ada pekerjanya memakai celana jeans yang modelnya saya tahun baru keluar tahun 2000-an. Tapi itu bisa dimaafkan lah karena ketotalan produksi film ini.
Akhirnya saya nonton film 5cm, film yang selama ini digembar-gemborkan bakal jadi film of the year karena novelnya aja banyak dibicarakan orang. Seperti Perahu Kertas, saya belum pernah baca buku 5cm walaupun adik saya punya dan ditersusun rapi di rak buku. Jadi i don't have any clue what kind of movie the 5cm is.
Karena ajakan kedua patner in crime saya, Mula dan Upit maka kemarin sore saya pergi juga nonton film arahan Rizal Mantovani ini. Sejujurnya kami bertiga sudah dalam posisi nothing to lose, kami ini cuma kemakan sama promo. Dan dari kami bertiga cuma Mula yang sudah baca bukunya Dhonny Dhirgantoro ini, sialnya lagi Mula orang yang paling gak mau kasih spoiler. Jadi sebelum kita nonton mulutnya tertutup rapat dan gak akan mau ngomongin 5cm.
"Yang hujan turun lagi......dibawah payung hitam kita berdua....."
Angkatan 80-an pasti tahu cuplikan lagu yang didendangkan oleh Ratih Purwasih berjudul Benci Tapi Rindu. Lagu itu melambangkan hujan sebagai "tangisan" dalam hubungan mereka, juga menjadi trigger akan kenangan masa lalu dalam sebuah hubungan.
Ketika saya duduk di Taksi hari ini sambil memandang hujan deras membasahi Jakarta, saya jadi ingat dulu saya pernah mempelajari arti hujan dalam budaya India yang dihubungkan kenapa hampir setiap film India pasti ada adegan kehujanan dan atau berhujan-hujanan.
Bagi orang India yang memiliki budaya agraris, hujan adalah berkah yang sangat mereka harapkan. Dengan hujan mereka bisa kembali bertani dan sumber air tersedia melimpah. Jadi gak heran hujan amat "dipuja" di negara Mahatma Ghandi ini. Bahkan menjadi lambang kebahagiaan mereka. Di film India ketika sepasang kekasih sedang memadu kasih maka biasanya akan ditambahkan hujan, selain artis dan aktornya akan kelihaan seksi, juga karena hujan adalah penggambaran bahagia yang bisa dimengerti oleh orang India. Sedangka jika hujan itu menyedihakan, biasanya mereka akan menambahkan petir dan badai. Tak jarang pada bulan Moonsoon ini diadakan pernikahan dan festival-festival.
Kalau ada yang bisa menghubungkan saya dan Bapak selain berenang, adalah buku dan film. Kami berdua sama-sama suka buku dan film. Khususnya film, Bapak agak-agak ambisius memperkenalkan film kepada saya sejak masih kecil.
Minggu lalu saya akhirnya pasang TV Kabel, karena masih awal jadi semua channel dibuka semua sama operatornya. Pas juga Bapak ada di Jakarta, jadi Bapak puas deh nonton TV Kabel. Sebagai orang yang dilahirkan ketika manusia mengandalkan surat dan telegram sebagai alat komunikasi, Bapak itu gaptek (yang kebetulan menurun kepada saya), jadi Bapak gak bisa masang DVD Player apalagi Xbox (bahkan untuk ada SMS yang masuk ke HP bisa bikin Bapak teriak-teriak panik), sehingga hiburan satu-satunya adalah Televisi.
Salah satu channel yang tersedia di TV Kabel adalah MGM. Channel ini menayangkan film-film klasik, yang kebetulan sebagai anak gaul jaman dulu, hampir semua sudah Bapak tonton dan ingin Bapak tonton. salah satunya adalah film Under Fire yang bintangi oleh Nick Nolte produksi tahun 1983.
Film Under Fire ini berdasarkan kisah nyata Billy Stewart, seorang journalist Amerika Serikat yang meliput Perang Saudara di Nicaragua, antara Pemerintah Somoza dan Pemberontak Sandinista pada tahun 1979. Billy Stewart kemudian tewas ditembak oleh tentara Somoza. Peristiwa penembakan itu terekam oleh Juru Kamera Jack Clark.
Rekaman ini kemudian ditayangkan berulang-ulang dan mengakibatkan Pemerintahaan Jimmy Carter mengurungkan niatnya untuk membantu Somoza, sehingga tak sampai sebulan sejak pembunuhan Stewart, pemberontakan Sandinista menang dan menguasai Nicaragua (sadar kan kalau kamera itu mematikan daripada senjata).
Film Under Fire ini tidak 100 persen mengambil kisah Billy Stewart sehingga dibuatlah tokoh rekaan bernama Russel Price seorang wartawan foto yang kemudian tewas ditangan tentara Somoza. Tipikal film produksi Hollywood yang harus mendramatisasi kisah nyata.
Anyway, setelah aku perhatikan ternyata film ini susah pernah saya tonton waktu saya masih SD bersama Bapak saya tentunya. Waktu itu saya belum tertarik dengan film-film seperti itu, saya masih "jatuh cinta" sama Rano Karno dan Yessy Gusman. Walaupun saya gak suka, pas nonton sama Bapak, saya menikmati film Under Fire ini. Jadi kalau dihitung saya sudah nonton film ini lebih dari 20 tahun yang lalu.....wowwww..... dan sampai sekarang saya masih menikmatinya bersama Bapak......wwwwooooooowwwwwwwww..........
Salah satu adegan yang paling fenomenal menurut saya adalah ketika Russel Price disuruh sama pemberontak Sandinista untuk memotret pemimpin mereka yang sudah tewas namun harus terlihat hidup dan diterbitkan di koran. Alasannya agar para pengikut dan pasukannya tetap mempunya harapan dan semangat memang, sedangkan bagi dunia mereka mengumumkan bahwa Sandinista masih punya pemimpin mereka.
Adegan ini penuh dengan dialog lucu, sakarsme dan mengingatkan saya dengan film Janur Kuning, film Indonesia tentang Perang Serangan Fajar atau 6 Jam di Yogyakarta. Sama-sama ingin menunjukan kepada dunia bahwa pemberontak/TNI/NKRI masih ada di Indonesia.
Rasanya menyenangkan sekali-sekali kita bisa terkoneksi lagi dengan orang tua. Mereka bisa beda jaman, beda bahasa, beda pergaulan tetapi dengan sedikit usaha kita bisa kembali berkomunikasi dengan mereka. Saya bersyukur bisa berkomunikasi dengan film, karena memang saya dididik melalui media tersebut. Mudah-mudahan akan banyak lagi hal yang bisa kami bicarakan lagi.
Sejak jaman Dewi Lestari menerbitkan buku Akar dan kawan-kawannya, saya bukan dan sama sekali bukan fans penulis yang bersuamikan Reza ini. Bagi saya karya-karya mantan personil group vocal Rida, Sita, Dewi ini absurd dan gak bisa dimengerti oleh jalan pikiran saya.
Jadi waktu diajak teman untuk menonton film Perahu Kertas, saya sebenarnya gak berharap banyak. Lha wong bukunya aja di rak buku saya sampai menguning belum pernah saya sentuh apalagi saya baca. Tujuan saya nonton biar terhindar dari tugas aja....hehehehehehe.....(maaf yah teman-teman....)
Karena gak berharap banyak jadi pas mau nonton saya sudah pasrah jika nanti tertidur pas filmnya main...parah yah...untungnya pas opening tittle ada nama Hanung Bramantyo tertulis disitu. Tiba-tiba saya jadi punya sedikit harapan dengan nih film, harapan nih film gak akan terjebak dalam dinamika remaja klise yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan sekejap plus menjual airmata yang gak berhenti sampai akhir film.
Adegan awal masih belum bisa membuat saya tertarik apalagi pas adegan Kugy menggunakan antena Neptunus untuk menemukan Keenan di stasiun Kereta Api menurut saya terlalu dan amat sangat dibuat-buat. Emang ada cewek segitu polos dan terjebak dalam dunia khayal? Rasanya gak ada deh.
Saya terus memaksakan mata saya untuk bertahan walaupun kelopak matanya saya juga tidak mau kalah dengan keinginan saya. Begitu adegan Keenan mengetahui bahwa nama lengkap Kugy adalah Kugy Karma Chameleon, saya langsung tersenyum lebar karena dari situ saya tahu Dewi Lestari bukan penulis novel biasa, beliau adalah penulis novel dengan misi dan visi, yang memberikan hiburan sekaligus pengetahuan kepada pambacanya.
Karma Chamaleon adalah lagu yang saya suka ketika saya masih kecil. Saya lupa pertama kali saya dengar lagu itu tetapi irama lagu Karma Chamaleon dan gaya Boy George dalam Music Videonya masih lekat di ingatan saya. Dan anehnya tidak semua orang yang mengerti lagu itu padahal baca bukunya juga lho.....sayang banget padahal lagu itu seperti mendasari cerita Perahu Kertas.
Dari adegan itulah saya, maka saya bisa melihat titik terang cerita dalam Film Perahu Kertas. Cerita tentang Kugy dan Keenan yang harus mengalami naik turunnya percintaan mereka. Kisah mereka tetap menarik dan menyetuh walaupun tanpa ada sentuhan tangisan (norak) khas film romantis produksi tanah air. Bahkan humor-humor yang terlontar begitu cerdas dan tentunya gak garing.
Saking mulusnya film ini gak sadar 2 jam saya habiskan menonton film ini. Bahkan editing kasar dan maksa khas film-film Indonesia hampir tidak ada....mulus lus kayak jalan tol Jakarta pas Lebaran. Sinematografi pun indah dengan gambar-gambar yang mengingatkan saya pada keindahan dunia mimpi ketika saya masih punya mimpi. Bahkan property yang digunakan seperti HP pun disesuaikan dengan setiap setting yang digunakan sebagai latar belakang. Bukan hanya itu jam tangan dan miniatur Kura-Kura Ninja bukan hanya menjadi hiasan semata tetapi juga menguatkan karakter Kugy yang memberi nama Gangnya Pura-Pura Ninja.
Kalaupun ada yang kurang adalah akting para pemain yang masih kaku. Hanya beberapa yang bisa membuat saya mengacungi jempol, seperti akting Tio Pakusadewo yang jadi Pak Wayan begitu meyakinkan, bahkan seperti gak ngelihat Tio Pakusadewo tapi ngelihat Pak Wayan main film. Lalu akting yang jadi Eko juga bagus dan menyenangkan. Yang jadi Remmy juga natural, jadi senang ngelihat. Lucunya kemunculan Titi DJ sebagi cameo di film ini mengingatkan saya pada jaman-jaman Titi Dj di Lenong Rumpi.
Yang mengecewakan adalah akting Ira Wibowo yang berkesan kaku dan kelibas sama akting August Melasz dan Tio Pakusadewo. Saya juga gak suka akting yang jadi Gadis Bali, kaku kayak robot. Yang jadi Wanda juga aneh banget, sedangkan yang jadi Noni yah so...so lha. Sedangkan yang jadi Kugy....hhhhhhmmmmmm kalau saya sih kurang puas yah ngelihat aktingnya, apalagi yang jadi Keenan...kayak mereka berdua harus mengeksplor lagi.
Tetapi bukan Hanung Bramantyo jika beliau tidak bisa mengatasi akting pemainnya yang kaku. Hanung memang jagonya menempatkan pemeran sesuai dengan kelebihan masing-masing. Mungkin beliau tahu bahwa dia tidak bisa menantang para pemainnya dengan berlebihan seperti layaknya Tio Pakusadewo, jadi suami Zaskia Mecca ini memanfaatkan karakter asli para pemainnya dengan karakter yang harus dimainkan dalam Perahu Kertas.
Hebatnya lagi walaupun dari sisi komersil dapat banget, Hanung juga tidak melupakan sisi artistik dalam film ini, jadi rasanya menyenangkan menonton film ini, bahkan saya sudah gak sabar menunggu bagian kedua film Perahu Kertas. Ketika saya membaca bagian akhir buku Perahu Kertas, Dewi Lestari menuliskan bahwa beliau ingin menulis tentang proses pendewasaan seorang perempuan yang terinspirasi dari komik Jepang yang berjudul Popcorn. Wow saya jadi tidak sabar berlayar kembali bersama Kugy dan Keenan menuju titik akhir dalam perjalanan cinta mereka. Mudah-mudahan tak lama lagi.