Majulah masuk ke dalam dunia Noni

Sebuah perjalanan hidup di pertengahan 30 tahunan...single, bahagia dan selalu mencari petualangan baru....Tinggalkan jejak anda dan ikuti jejak saya di @nonibeen

Minggu, 02 Juni 2013

Kenapa Saya Harus Di Belakang?


Beberapa hari ini saya lagi bingung dengan banyaknya kalimat "Dibelakang Laki-Laki yang Sukses terdapat Perempuan yang Hebat".  Mulai dari seminar sampai pidato seorang tokoh politik di depan Ibu-Ibu kader partainya.

Saya gak pernah suka kalimat itu.  Kenapa?  Karena perempuan terkesan bergerak di belakang pria dan hanya di belakang pria.  Kenapa dia harus diakui kehebatannya ketika suami atau anaknya berhasil?

Memang sebagai suami istri harus saling mendukung untuk mencapai kesuksesan dan keberhasilan bersama.  Tetapi saya rasa semua perempuan punya mimpi dan cita-cita sendiri, bukan cita-cita suami atau pacar yang menjadi cita-citanya.  Perempuan kan gak harus menguburkan impiannya agar bisa mewujudkan impian suami atau anaknya.

Sayangnya banyak yang menganggap kesuksesan perempuan sama dengan kehancuran dari keluarganya.  Perempuan seringkali diposisikan dalam dilema dimana dia harus memilih kesuksesannya atau keluarganya, padahal tanggung jawab untuk mencapai kebahagiaan keluarga bukan hanya di pundak perempuan tetapi juga tanggung jawab suami.

Jadi gak heran, di jaman internet ini masih banyak pengorbanan yang dilakukan perempuan atas nama keluarga dan menjadi tokoh dibalik layar ketika suaminya sukses. Ada yang menolak beasiswa karena suami atau bahkan pacar tidak setuju.  Bahkan tidak jarang menolak naik pangkat agar suami gak minder *tepok jidat*.
Saya sering ingin mengganti kalimat "Di belakang laki-laki yang sukses terdapat perempuan yang hebat" dengan "Laki-Laki bisa sukses karena ada perempuan hebat dalam hidupnya". Coba saja Barack Obama tidak menikah dengan Michelle Obama, maka dia gak akan menjadi Presiden Afrika Amerika Pertama di Amerika Serikat.  Jika saja Bill Clinton tidak ada Hillary Clinton yang kuat dalam menghadapi badai skandal perselingkuhannya dengan Monica Lewinsky mana mungkin Clinton dapat meneruskan masa jabatan kepresidenannya.  Atau bayangkan jika Jaqualine Kennedy tidak mentalnya tidak sekeras baja, apakah John F. Kennedy akan menjadi Presiden termuda dan satu-satunya beragama Katholik di Amerika Serikat.

Dan mereka semua tidak berdiri di belakang suaminya tetapi selalu dan selalu berdiri disamping suaminya, bahkan mereka mempunyai program kerja sendiri.  Nancy Reagan punya program kerja anti narkoba yang populer dinamai dengan Say No.  Lalu Jaqualine Kennedy selalu bisa melobi lawan-lawan politik suaminya sehingga setuju dengan dengan arah politik suaminya.  Bahkan Indira Ghandi tetap mempunyai impian untuk meneruskan "warisan politik" ayahnya Jawaharlal Nehru, ketika beliau menikah dengan Feroz Ghandi.

Jangan pernah membuat kesuksesan pria sebagai kesuksesan perempuan, karena banyak contoh dimana ketika pria itu berubah dan menjadikan kesuksesan itu boomerang bagi perempuan, seperti contohnya Fathanah dan Lutfi tokoh-tokoh PKS yang selain terkena kasus korupsi, mereka berdua pun tak jauh dari perempuan-perempuan cantik.

Penting bagi perempuan untuk mempunyai kesuksesan sendiri.  Ibu teman saya mempunyai toko di rumah yang penghasilannya hampir sama dengan suaminya.  Lalu ada juga teman perempuan saya menjadi make up artist, bahkan pembantu saya bekerja demi kesuksesannya membesarkan anak.  

Jadi kalau bisa berjalan berdampingan kenapa harus di belakang?????

Gambar dari

Tidak ada komentar:

Cari Blog Ini